Kolom Pimpinan

Shalat: Mi’rajnya Seorang Mukmin

Dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, karya Ibnu Katsir ketika membahas keutamaan Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad dikisahkan bahwa rumah Imam Zainal Abidin As-Sajjad   terbakar, sementara beliau tengah sibuk dengan shalatnya.

Setelah orang-orang usai memadamkan api tersebut, mereka berkata kepada Imam: “Rumahmu terbakar dan engkau tidak memperhatikannya. Apakah engkau tidak mendengar jeritan?”

Imam berkata: “Tidak.”

Mereka berkata: “Bagaimana engkau bisa tidak mendengar?”

Imam berkata: “Aku sedang sibuk dengan api akhirat dari pada api dunia.” [1].

Orang yang sudah mencapai tahapan Musyahadah, maka ketika shalat bisa benar-benar khusyuk. Abu Said al-Kharraz  berkata:

“Barangsiapa menyaksikan Allah dengan hatinya maka segala sesuatu selain Dia akan menjauh dan lenyap. Semua akan hilang ketika ada Keagungan Allah Swt. Sehingga yang tersisa dalam hati hanyalah Allah Azza wa Jalla.”

Orang-orang yang sudah bisa Mi’raj Ruhani ketika shalat akan bisa merasakan Mi’raj. Di saat takbir ’Allahu Akbar’ maka apa yang dilihat, dipikirkan, dan dirasakan lenyap semuanya. Di saat masuk ke dalam keheningan dan kekhusyuan saat itulah sudah berada di “Masjidil Haram” yaitu di dalam hati nurani itulah Ka’bah yang ada di dalam diri.

Maka kunci untuk menjadikan shalat sebagai Mi’raj adalah kekhusyuan, dengan modal tersebut seseorang bisa ke “Masjidil Haram” atau Baitullah yaitu di dalam hati nurani setiap manusia.

Kemudian sukma diajak oleh sejati diri untuk naik ke langit ruhani menuju Masjidil Aqsha. Tubuh jasmaninya shalat di rumah, tapi sukmanya shalat di Masjidil Aqsha. Sebagian orang ada yang merasakan seakan-akan tubuh jasmani dan ruhnya sedang shalat di Masjidil Aqsha.

Disebut Masjidil Aqsha artinya adalah tempat sujud yang sangat  jauh tak terhingga, letaknya di langit ruhani bukan di bumi apalagi di Palestina. Mi’raj itu perjalanan ruhani bukan perjalanan jasmani. Untuk menuju ke sana membutuhkan cahaya pendorong yang sangat kuat dan besar. Bisa berasal dari zikir nafas, juga bisa dengan zikir ”la ilaaha illallah”.

Orang yang shalat di “Masjidil Aqsha” yang ada di langit ruhani rasanya berbeda dengan shalat di bumi dan sangat nikmat sekali. Di sana terasa sebentar namun menurut waktu di bumi terasa lama. Begitu juga orang yang shalatnya benar-benar Mi’raj bisa melupakan segalanya yang ada hanyalah Allah.

Itulah mengapa ketika Rasulullah SAW. shalat di rumah, waktu shalat sangat lama dan panjang, sehingga kakinya bengkak. Begitu juga ketika Imam Ali Karramallahu Wajhahu terkena panah punggungnya beliau meminta agar dicabut di saat mendirikan shalat.

“Sesungguhnya kalian apabila shalat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat dengan Tuhan.” (HR. Hakim).

Wallahu a’lam bishshawab

Selamat menyambut bulan Rajab 1445H

Watampone 13 Januari 2024 M/1 Rajab 1445 H

Al-Faqir Saharuddin

[1]. Ibnu Katsir, Al-Bidayah Wa An-Nihayah, Jilid 6 Halaman 229 , Cetakan Pertama Tahun 2005M/1425H, Terbitan Daarul Fikr.

Admin

Web Terbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page