Oleh: KH. Saharuddin, S.Ag., S.Pd., M.Pd.I.

Jiwa terbangun di lorong yang sempit. Ia lahir membawa nafsu sebagai raja, dan tubuh sebagai singgasana. Nafsu berbicara lantang, memerintah tanpa ragu- ‘ingin, memiliki, menguasai’. Jiwa menurut, tanpa tanya, tanpa jeda. Inilah nafs al-ammārah—jiwa yang belum mengenal cahaya, hanya mengenal rasa. Hidupnya riuh, ibadahnya tawar-menawar, doanya panjang tetapi kosong dari kehadiran. Tuhan dipanggil ketika sempit, dilupakan ketika lapang. Gelap tidak terasa gelap, sebab mata batin belum terbuka. Namun malam tidak selamanya pekat.
Dalam satu titik yang tidak direncanakan, jiwa terjatuh—oleh dosa, oleh kehilangan, atau oleh kelelahan yang tak terucap.
Di sanalah suara lain terdengar, lirih namun tajam- ‘mengapa kau begini’ Itulah nafs al-lawwāmah. Jiwa mulai mencela dirinya sendiri. Tangis lahir bukan karena takut neraka, tetapi karena malu pada Yang Maha Melihat. Ia masih jatuh, masih tergelincir, tetapi setiap jatuh kini terasa perih.
Nur pertama menyala bukan sebagai terang, melainkan sebagai luka kesadaran. Seiring luka itu dirawat dengan taubat, jiwa mulai mendengar bisikan yang lebih halus. Bukan suara nafsu, bukan pula suara dunia. Ini adalah ilham. Nafas menjadi berat ketika dosa mendekat, ringan ketika dzikir menyapa.
Jiwa memasuki wilayah, nafs al-mulhimah. Ia belum suci, tetapi sudah hidup.Ia belum selamat, tetapi sudah menghadap.Qalbu mulai emimpin langkah,
meski kaki masih kadang goyah. Di sini, ibadah tidak lagi dipaksa, tetapi ditarik oleh rindu yang belum bernama.Lalu datang sunyi yang berbeda.
Bukan sunyi karena ditinggalkan, tetapi sunyi karena hadir.
Jiwa tidak lagi berteriak meminta, tidak pula resah menunggu. Inilah nafs al-muṭma’innah/Jiwa yang tenang. Ujian datang, ia tidak pecah. Pujian singgah, ia tidak mabuk.
Dunia masih disentuh, tetapi tidak dipeluk. Nur kini menetap di qalbu, bukan sebagai kilat, melainkan sebagai fajar yang perlahan. Dzikir tidak lagi diucap—ia bernafas. Ketika ketenangan itu matang, jiwa belajar satu hal yang paling berat- RIDHA. Ia berhenti menawar takdir. Ia berhenti bertanya “mengapa aku”. Inilah NAFSU AR-RAADIYAH/ Jiwa yang menerima, bukan karena paham, tetapi karena percaya. Dari ridha itu, Allah membalas dengan ridha-Nya. Jiwa menjadi ringan, sebab tidak lagi membawa beban kehendak sendiri.
Akhlaknya menjadi doa yang berjalan. Diamnya lebih fasih daripada kata. Dan pada ujung yang tak bisa diklaim, jiwa diluruhkan sepenuhnya. Ia fana’ dari keakuan, baqa’ dengan kehendak-Nya. Nafsu tidak dibunuh, tetapi ditundukkan. Cahaya tidak dikejar, tetapi menyingkap dirinya sendiri. Jiwa tidak lagi merasa sampai, sebab yang ada hanyalah pulang.
Inilah jiwa yang sempurna—bukan karena ia tinggi, tetapi karena ia tiada. Maka perjalanan dari nafsu ke Nur bukanlah perjalanan ke atas, melainkan perjalanan ke dalam. Semakin ke dalam, semakin gelap. Semakin gelap, semakin sunyi. Dan di puncak sunyi itulah, jiwa mendapati bahwa sejak awal ia tidak pernah berjalan sendiri. Nur itu telah ada—menunggu hijab nafsu runtuh satu per satu, hingga yang tersisa hanyalah Dia.
Semoga Bermanfaat 🤲🤲🙏
Selamat Menanti Buka Puasa di Hari ke 14
والله الموفق إلى طريق الحق
Watampone, 14 Ramadhan 1447 H
Hamba Allah Yang Faqir






Tinggalkan Balasan