Oleh: KH. Saharuddin, S. Ag., S.Pd., M.Pd.I.

Selama kita tidak mau belajar tentang kesadaran, ibadahnya cenderung berhenti pada maqam syariat yang bersifat lahiriah. Kita menjalankan shalat, puasa, dan ritual lainnya sekadar memenuhi kewajiban jasmani, merasa semuanya telah selesai karena gerak dan bacaan telah terpenuhi.
Padahal ibadah bukan hanya soal gerakan, tetapi tentang hadirnya hati dan pengenalan terhadap siapa yang disembah. Tanpa kesadaran, ibadah mudah menjadi rutinitas, Tapi dengan kesadaran, ibadah menjadi perjumpaan.
Ketahuilah, setiap peristiwa yang berulang dalam hidup kita, bukanlah kebetulan. Ia adalah pesan. Ia adalah cermin. Ia meminta untuk ditafakuri, bukan sekadar dilewati.
Orang yang mulai peka adalah mereka yang mampu membaca pesan di balik kejadian. Namun ego yang terikat pada persepsi duniawi, yang serba bentuk, label, dan pengakuan, sering kali mencengkeram kuat. Segala hal yang melampaui kebiasaan akan cepat diberi cap: bid’ah, sesat, atau menyimpang.
Bukan karena kebenaran itu salah, tetapi karena batin belum siap menerima keluasan makna.
Ketika penglihatan batin tertutup, tekad menjadi sempit. Pandangan terikat pada dimensi yang terbatas, sehingga sulit melihat kesatuan di balik keberagaman.
Perjalanan kesadaran bukanlah meninggalkan syariat, melainkan menembusnya, dari bentuk menuju makna, dari gerak menuju rasa, dari keterbatasan persepsi dunia menuju keluasan kesadaran akan Tuhan Yang Maha Luas.
Ibadah lahir adalah pintu. Kesadaran batin adalah ruangnya. Dan pengenalan kepada-Nya adalah tujuan dari seluruh ibadah dan pengabdian.
Semoga Allah SWT Menunjukkan kami kepada Jalan Benar🤲🤲🤲
والله الموفق إلى اقوم الطريق
Watampone, 12 Ramadhan 1447 H
Hamba Allah yang Faqir🙏






Tinggalkan Balasan